Dalam menjalani hidup, manusia pasti selalu dihadang masalah. Bukan kamu, tapi juga aku. Karena kalau dipikir apa sih itu hidup? Hidup ya menyelesaikan masalah itu sendiri, jadi kalau tak ada masalah secara otomatis tak ada hidup. Lalu, dengan begitu manusia tak akan menang dong?! Manusia hidup pasti selalu mengahadapi masalah, dan kalau masalah sudah tak ada berarti bukan lagi hidup namanya mati.
Sebenarnya hidup bukanlah soal menang kalah. Tetapi lebih kepada pilihan. Pilihan untuk tetap bertahan hidup atau mati. Sesimpel itu. Saat manusia tak menginginkan masalah, maka dia pasti menginginkan mati. Tapi mati pun ternyata tidak lepas dari masalah. Maka bertahan hidup lah yang menurutku pilihan terbaik. Kita tetap stay on menghadapi masalah yang datang satu per satu, silih berganti ataupun menyerbu berbarengan. Tak jadi soal. Karena setiap pilihan ada konsekuensinya. Saat memilih berhenti menghadapi masalah (mati) pun akan mengalami apa yang dinamakan masalah itu sendiri, karena mati masih misteri.
Aku sangat apresiate terhadap orang-orang yang masih mau berjuang untuk bertahan hidup. Orang-orang yang dengan tetap teguh mempertahankan pilihannya dengan menerima berbagai resikonya. Sebenarnya kita semua bisa menjadi orang-orang yang teguh dalam jalan perjuangannya. Semua ini sudah menjadi hukum alam. Alam lah yang berkuasa.
Seperti layaknya sebuah batu bata. Bahan baku batu bata adalah tanah liat. Tanah liat ini akan dicetak lalu di bakar dalam tungku yang sangat panas sebelum menjadi batu bata. Seperti itu pula manusia. Harus dicetak dengan pendidikan dan di bakar dengan pengalaman. Semakin panas api pengalaman membakar, akan semakin bagus pula manusia yang nantinya tercipta.
Batu bata tidak akan mudah terbakar karena dalam proses pembuatannya telah di bakar oleh api yang lebih panas. Begitu pula manusia, semakin pahit pengalaman yang dilaluinya, maka akan semakin kuat manusia itu sendiri. Pengalaman pahit bukan berarti selalu pengalaman yang menyakitkan. Pahit disini adalah sesuatu yang belum pernah dirasakan, karena pada dasarnya manusia tidak menyukai halbaru sehingga selalu mengatakan itu adalah buruk. Jadi semakin bervariasi pengalaman seseorang, bisa diibaratkan sebagai tungku api yang sangat panas dalam pembakaran batu bata.
Jadi kawan, janganlah lekas putus asa saat mengalami masalah yang kau pandang berat. Sebenarnya bukanlah berat, tetapi engkau saja yang belum pernah mengalaminya. Saat kau telah mengambil sebuah keputusan, berusahalah juga menerima resikonya karena tak ada pilihan tanpa resiko. Dan jika pada akhirnya kau berbuat salah, akuilah. Toh sebenarnya tak ada salah benar, hanyalah persepsi orang saja mengatakan salah benar. Lalu kembali memilih jalan sesukamu dengan menerima resikonya juga.
Dengan begitu, manusia akan menjadi selayaknya batu bata kelas satu. Tapi perlu diingat, batu bata tidak akan bermanfaat kalau belum menjadi sebuah rumah.
Read For Full. . .
Sebenarnya hidup bukanlah soal menang kalah. Tetapi lebih kepada pilihan. Pilihan untuk tetap bertahan hidup atau mati. Sesimpel itu. Saat manusia tak menginginkan masalah, maka dia pasti menginginkan mati. Tapi mati pun ternyata tidak lepas dari masalah. Maka bertahan hidup lah yang menurutku pilihan terbaik. Kita tetap stay on menghadapi masalah yang datang satu per satu, silih berganti ataupun menyerbu berbarengan. Tak jadi soal. Karena setiap pilihan ada konsekuensinya. Saat memilih berhenti menghadapi masalah (mati) pun akan mengalami apa yang dinamakan masalah itu sendiri, karena mati masih misteri.
Aku sangat apresiate terhadap orang-orang yang masih mau berjuang untuk bertahan hidup. Orang-orang yang dengan tetap teguh mempertahankan pilihannya dengan menerima berbagai resikonya. Sebenarnya kita semua bisa menjadi orang-orang yang teguh dalam jalan perjuangannya. Semua ini sudah menjadi hukum alam. Alam lah yang berkuasa.
Seperti layaknya sebuah batu bata. Bahan baku batu bata adalah tanah liat. Tanah liat ini akan dicetak lalu di bakar dalam tungku yang sangat panas sebelum menjadi batu bata. Seperti itu pula manusia. Harus dicetak dengan pendidikan dan di bakar dengan pengalaman. Semakin panas api pengalaman membakar, akan semakin bagus pula manusia yang nantinya tercipta.
Batu bata tidak akan mudah terbakar karena dalam proses pembuatannya telah di bakar oleh api yang lebih panas. Begitu pula manusia, semakin pahit pengalaman yang dilaluinya, maka akan semakin kuat manusia itu sendiri. Pengalaman pahit bukan berarti selalu pengalaman yang menyakitkan. Pahit disini adalah sesuatu yang belum pernah dirasakan, karena pada dasarnya manusia tidak menyukai halbaru sehingga selalu mengatakan itu adalah buruk. Jadi semakin bervariasi pengalaman seseorang, bisa diibaratkan sebagai tungku api yang sangat panas dalam pembakaran batu bata.
Jadi kawan, janganlah lekas putus asa saat mengalami masalah yang kau pandang berat. Sebenarnya bukanlah berat, tetapi engkau saja yang belum pernah mengalaminya. Saat kau telah mengambil sebuah keputusan, berusahalah juga menerima resikonya karena tak ada pilihan tanpa resiko. Dan jika pada akhirnya kau berbuat salah, akuilah. Toh sebenarnya tak ada salah benar, hanyalah persepsi orang saja mengatakan salah benar. Lalu kembali memilih jalan sesukamu dengan menerima resikonya juga.
Dengan begitu, manusia akan menjadi selayaknya batu bata kelas satu. Tapi perlu diingat, batu bata tidak akan bermanfaat kalau belum menjadi sebuah rumah.





