Sisi ekonomis Program KB


lihat lebih banyak foto di www.boredpanda.com.


Read For Full. . .

Si Kurus mencoba sesuatu yang Berat

Blogging emang sekarang ini sepertinya sudah merasuk 'agak' begitu dalam ke dalam apa yang aku namakan hidup. lalu, setelah sejenak men-scan beberapa judul postinganku, ada beberapa yang termasuk "berat". Mungkin banyak blogger lebih menyukai hal-hal ringan tapi mengena. Yah, menurutku sih itu pilihan. Toh, memilih itu bebas, bukan begitu?!

Banyak penyebab dan latar belakang terhadap pilihan para blogger itu sendiri, apakah mengangkat masalah-masalah pribadi, ataukah sesuatu yang ringan-ringan tetapi mengena atau malah mengangkat artikel-artikel "berat" yang notabenenya mirip ama penulisan sekeripsi dan tesis.

Ada juga yang takut menulis yang "berat" karena takut nantinya termakan tulisannya sendiri. menurutku itu bukan sesuatu yang penting. kita ini manusia. manusia hidup itu selalu dipengaruhi oleh banyak hal, pikiran dan ide nya pun selalu pasang surut. Jadi tak masalah kalo dulu orang percaya bumi itu datar, dan sekarang orang percaya bumi itu bulat. toh, dengan begitu orang mengalami evolusi menuju kemajuan.

Soal pilihan posting, kenapa sih banyak postinganku yang kata beberapa orang itu kurang mudengin? dan diarasa "berat" dan "ambigu". Ada beberapa alasan.

Pertama, mungkin saja aku terlalu sering blogwalking ke beberapa blog dosen-dosenku yang isinya, yah, materi-materi kuliah, kalopun ada artikel, tentunya artikel berbobot. pertama baca emang ada kesan lagi kuliah, tapi lama kelamaan, wah, asik juga iah. lumayan buat nambah inspirasi buat sekeripsi besok. Lalu, mungkin dengan tanpa sadar aku mulai menirunya, soal hasil, aku serahkan pada tuhan! mungkin sebab itu kali yah, postinganku banyak yang ambigu dan saling beda pendapat satu sama lain.

kedua, mungkin terlalu seringnya aku membaca opini-opini dari surat pembaca di koran-koran jadi sedikit banyak gaya menulisku terpengaruh. toh, sebenarnya aku lebih suka mengangkat tentang diri sendiri (egosentris ataukah narsis?)

ketiga, ini pasti bukan mungkin. karena aku orang kurus yang bodoh. jadi pantaslah kalo aku menginginkan sesuatu yang berbobot dengan pemikiran yang cemerlang. kalo hasilnya malah jadi acak adut, pantas saja lah, kan aku orang kurus yang bodoh.

Terakhir, ini tak lepas dari sebuah pilihan. yah, kebebasan memilih adalah hukum alam yang paling purba yang memang harus dilindungi (oleh pemerintah, oleh polisi, tentara, atau tuhan?). dan saya memilih ini, ada yang salah?

Selanjutnya, tetap Blogging pastinya! walopun banyak blogger beda pendapat, dan kadang tulisannya saling singgung menyinggung, toh, kita tetap menjunjung persatuan! memberikan semangat satu sama lain. KEEP BLOGGING!!

Read For Full. . .

Demokrasi dan Kenaikan Harga LPG


Sebagian orang menyukai minuman bersoda dalam kemasan botol ukuran besar. Namun, sebagian lainnya lebih menyukai dalam kemasan botol ukuran kecil. Demikian gambaran kebebasan memilih, demokrasi dalam kehidupan sehari-hari. Batasan dalam memilih ini hanya bergantung jumlah uang dikantong. Jika minuman bersoda dalam botol besar dirasa mahal, maka botol kecil menjadi alternatif pilihannya. Yah, itu adalah sebuah demokrasi ekonomi yang paling jujur dan pasti.

Dalam demokrasi ekonomi itu, baru-baru ini kita dikejutkan dengan kebijakan pemerintah menaikkan harga LPG ukuran 6kg, 12kg, dan 50kg. Tujuannya adalah untuk meminimalisasi penyelundupan dengan cara menyesuaikan dengan harga pasar dunia. Disamping itu juga untuk meringankan beban subsidi yang ditanggung pemerintah dan untuk meningkatkan kualitas produk dan pelayanannya. Lalu yang terakhir untuk melindungi daya beli masyarakat miskin dengan tidak menaikkan LPG ukuran 3kg.

Jika tujuannya untuk meminimalisasi penyelundupan dan meringankan subsidi pemerintah, itu merupakan langkah yang tepat. Tetapi melindungi daya beli masyarakat miskin dengan tidak menaikkan LPG 3kg, sudah pasti salah. Mengapa?

Hal ini karena kebijakan pertamina pada dasarnya tidak mampu membatasi kebebasan memilih. Kebebasan memilih merupakan hukum alam yang tidak bisa dikendalikan dalam demokrasi ekonomi. Kebijakan menerapkan diskriminasi harga terhadap LPG 3kg pada akhirnya akan menemui banyak kendala.

Rumah tangga yang dihadapkan dengan kenaikan LPG 6kg, 12kg, dan 50kg akan memiliki dua pilihan. Mengurangi konsumsi LPG 6kg, 12kg, dan 50kg atau mengurangi konsumsi lainnya. Akibatnya, rumah tangga akan meluangkan waktunya untuk memburu LPG 3kg.

Keinginan untuk memburu LPG 3kg akan meningkatkan kurva permintaan, padahal tidak diimbangi dengan penambahan persediaan (penawaran) oleh Pertamina. Akibatnya, dalam jangka pendek akan terjadi kelangkaan LPG ukuran 3kg. Kemudian memicu pihak-pihak tak bertanggungjawab untuk melakukan penimbunan terhadap LPG 3kg yang nantinya akan dijual kepada konsumen yang mau membayar lebih tinggi dengan harga yang dipatok Pertamina. Ini akan terus berlanjut sampai harga LPG 3kg sama dengan harga LPG 6kg, 12kg, dan 50kg.

Jika pemerintah memaksa pasar bekerja sesuai dengan keinginan, yaitu melindungi harga LPG 3kg, maka diperlukan biaya yang lebih besar karena harus melakukan pengawasan yang ketat terhadap pasar LPG. Alhasil, keefektifan kebijakan ini menjadi dipertanyakan. Kecuali memang hanya bertujuan untuk meminimalisasi penyelundupan dan meringankan beban subsidi maka bisa jadi kebijakan ini benar.

Dalam demokrasi ekonomi, kebebasan memilih mutlak harus dilindungi. Batasannya hanya pada tingkat pendapatan. Semakin tinggi pendapatannya, maka semakin tinggi pula variasi pilihannya, sebaliknya semakin rendah pendapatan maka semakin rendah pula variasi pilihannya. Selain itu, kebebasan memilih juga dipengaruhi oleh harga barang dan jasa. Jika harga barang dan jasa murah, maka semakin tinggi tingkat variasi memilih, dan jika harga barang dan jasa mahal maka semakin rendah tingkat variasi memilihnya. Pola bekerja seperti ini akan terjadi secara otomatis dan permanen.

Kesalahan kebijakan pemerintah dalam menaikkan harga LPG adalah dalam menerapkan dasar kenaikan harga. Seharusnya pemerintah membedakan konsumen LPG dari apakah itu konsumen akhir atau konsumen antara (untuk kegiatan produksi). Sehingga harga yang seharusnya dinaikkan hanya untuk LPG ukuran 50kg, karena konsumen yang membeli LPG 50kg merupakan konsumen antara yang nantinya akan melakukan kegiatan produksi.

Dengan begitu, konsumen akan malas mengganti konsumsi LPGnya ke LPG 3kg, 6kg, dan 12kg. Tidak lucu juga kalau untuk kegiatan produksi menggunakan LPG 3kg bukan? Selain itu dampak kenaikan harga LPG juga tidak akan begitu dirasakan karena konsumen LPG 50kg akan mentransfer biayanya ke produk yang dihasilkannya, sehingga beban kenaikkan LPG akan didistribusikan lebih merata. Alhasil, perlindungan terhadap konsumen akhir, yaitu masyarakat miskin akan lebih efektif daripada kebijakan awal.

Read For Full. . .

Efek Negatif Interest Rate (Suku Bunga)


Be it speculation on currencies or speculation on stocks and shares, the worlds has become one big casino with gaming tables distributed along every latitude and longitude. The game and the bids, in wich millions of players take part, never cease. The American quotations are followed by those from Tokyo and Hongkong, from London, Frankurt and Paris. Everwhere speculation is supported by credit since one can buy without paying and selling without owning
--Maurice Allais (1993), seorang pemenang nobel—


Berbicara mengenai sektor moneter, mencakup money demand dan money supply karena equilibrium antara keduanya sangat penting dalam menciptakan iklim ekonomi yang kondusif.
Money demand atau permintaan akan uang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti, output total, transaksi total, pendapatan, kekayaan, tingkat upah, dan interest rate.
Keynes berpendapat bahwa permintaan akan uang didasarkan atas tiga motif, yaitu transaction motive meliputi pembiayaan transaksi-transaksi, kebutuhan konsumsi, investasi, dan ekspor impor; precautionary motive yaitu sebagai alat untuk menanggulangi hal-hal yang tidak diperkirakan sebelumnya; dan speculative motive yaitu sebagai alat untuk mengambil keuntungan dari kegiatan-kegiatan spekulasi pada pasar komoditi, mata uang asing, dan keuangan.
Pada ekonomi modern , tidak semua motif tersebut dibiayai dengan kekayaan sendiri, tetapi ada yang menggunakan hutang. Dengan begitu munculah interest rate yang ikut mempengaruhi money demand dan berpengaruh negatif terhadap permintaan uang riil.
Pada tingkat money supply tertentu (tetap), bila permintaan uang untuk speculative dan precautionary motives meningkat, maka ketersediaan uang untuk keperluan transaksi akan berkurang. Hal ini dapat mengakibatkan berkurang/ terganggunya kebutuhan uang bagi transaksi-transaksi untuk memenuhi kebutuhan pokok dan kegiatan investasi yang produktif. Selanjutnya, akan mengakibatkan inflasi perekonomian. Jumlah uang meningkat tetapi tidak diiringi oleh output.
Menurut Umer Chapra, penyebab utama terjadinya missalokasi ini (uang dialokasikan lebih banyak bukan untuk transaksi kebutuhan pokok dan investasi produktif) adalah interest rate.
Pemenuhan kebutuhan dana dari utang akan menciptakan tingkat suku bunga yang didasarkan pada kemampuan peminjam memberikan jaminan hutang guna menjamin pinjaman yang diberikan dan kecukupan cashflow untuk memenuhi kewajiban tersebut (cicilan yang ditentukan besarnya). Sehingga pinjaman hutang mengalir cenderung kepada golongan kaya yang umumnya mampu memenuhi kedua syarat tersebut dan juga pemerintah yang diasumsikan tidak akan mengalami kebangkrutan. Namun, golongan kaya umumnya memanfaatkan dana tersebut tidak hanya untuk investasi yang produktif tetapi juga untuk konsumsi barang lux dan simbol (barang antik) dan juga spekulasi. Sedangkan pemerintah menggunakan dana bukan saja untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat, tetapi juga pengeluaran yang berlebihan pada sektor pertahanan dan perusahaan-perusahaan pemerintah yang tidak menguntungkan.
Dengan adanya kredit, juga meningkatkan konsumsi masyarakat melebihi pendapatannya. Hal ini terjadi karena ketersediaan kredit berdasarkan interest rate yang tidak peduli penggunaan kredit yang telah disalurkan, sehingga kredit mendorong masyarakat menjadi konsumtif.
Pengucuran kredit berdasar interest rate yang tidak memperhatikan kelayakan proyek dan pemanfaatan dari dana yang disalurkan juga mengakibatkan tidak meratanya alokasi dana. Karena dana yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat mengalir hanya kepada golongan kaya. Hal ini diperparah oleh lembaga-lembaga keuangan yang cenderung membuat semakin tidak meratanya distribusi pendapatan dan kekayaan.
Interest rate juga menentukan terhadap ketidak stabilan ekonomi dunia. Tingginya volatilitas dari interest rate mengakibatkan tingginya tingkat ketidakpastian dalam financial market. Sehingga investor enggan melakukan investasi jangka panjang. Mereka lebih menyukai investasi jangka pendek yang berbau spekulasi lebih menarik, sehingga masyarakat lebih senang mengambil keuntungan pada pasar-pasar komoditi, saham, dan valuta asing.
Semakin besarnya transaksi keuangan untuk spekulasi dan derivatives contract (futures and options) berpengaruh terhadap sistem pembayaran. Sehingga jika terjadi masalah keuangan di suatu daerah, akan menyebar ke seluruh financial system melalui dominoes effest pada lembaga-lembaga keuangan.

Read For Full. . .

Comersial Box